Mari kita cegah Pemanasan Global, Bumi kita hanya Satu. Jadilah sahabat bagi Bumi

Tampilkan postingan dengan label Film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Film. Tampilkan semua postingan

Minggu, Januari 04, 2009

THE DAY AFTER TOMORROW Pemanasan Global yang Membekukan Duni

Sumber http://www.kapanlagi.com/



Pemanasan global merupakan satu hal yang paling berbahaya yang dihadapi oleh planet kita ini dan sebuah topik klise yang selalu menjadi naskah nomor 1 dalam film blockbuster Hollywood. Film besutan sutradara Roland Emmerich The Day After Tomorrow jenis film Scifi yang menakjubkan walaupun ceritanya mudah ditebak : bertutur tentang dampak pencemaran yang menyebabkan perubahan besar di planet ini dan menyebabkan dunia membeku. Sisi menghibur film macam ini adalah perpaduan-nya yang menghasilkan sebuah film megah, efek epic dan visualisasi yang digambarkan dengan menakjubkan dari bencana yang dasyat serta alur cerita tentang kegilaan-gilaan yang terjadi dalam sebuah keluarga saat krisis terjadi.

Sebenarnya kisah semacam ini sudah usang, Disney yang pertama kali menayangkan kisah semacam ini pada tahun 60-an di Televisi .Pahlawan dan penjahat dalam film ini adalah sutradara serta penulis nya Emmerich sendiri. Emmerich menciptakan sebuah bencana dasyat, layaknya film action atau monster besutannya sebelumnya (Independence Day, The Patriot, Godzilla) yang menonjolkan kekuatan visual yang dasyat dan kaya imajinasi, dengan hanya berbekal naskah dan sedikit karakter, kadang memang kita mengabaikan cerita untuk menikmati sebuah film. Bahkan penonton tidak berkeberatan dengan cerita yang disuguhkan. Seperti The Day After Tomorrow, menggambarkan cukup banyak efek dan visual tentang pembantaian dan kerusakan yang benar-benar menghantui mimpi-mimpi anda.

Tanpa meninggalkan kelucuan-kelucuan di dalamnya, Emmerich dengan keahliannya yang seperti penyulap memperlihatkan kepada kita Los Angeles yang hancur oleh dasyatnya angin tornado meruntuhkan tulisan "HOLLYWOOD", angin ribut di atas Hawaii serta badai salju yang mengubur New Dehli. Menyaksikan film ini membawa kesenangan tersendiri selain mengetengahkan asumsi yang bisa kita terima, pengunaan serta penyalahgunaan sumber daya alam yang berlebihan serta kerusakan atmosfere serta ozon.

Sebuah cerminan dosa dari perindustrian dan pemerintah, Day After Tomorrow mengusung kekacauan yang terjadi karena dunia mengabaikan peringatan ayahnya Sam, Jack Hall (Dennis Quaid) seorang klimatologist, yang yakin akan terjadi pencairan es kutub yang bakal menutup seluruh Gulf Stream dan secara radikal mengubah iklim sampai sekitar 100 tahun atau lebih.Berpikir lebih bijaksana Jack memutuskan untuk mengatakan memberi peringatan. Sayangnya, peringatannya jatuh ketelinga orang yang tuli, telinga-telinga paling tuli itu adalah milik Presiden Blake (Perry King) dan wakil presiden-nya yang licik yang hanya perduli pada bisnis (Kenneth Welsh). Saat iklim di belahan bumi utara tiba-tiba berubah, angin topan besar mulai melanda sebagian Amerika dan mulai merambat ke Meksiko.

Jack dihadapkan tugas yang sangat sulit. Jack harus menyelamatkan anak lelakinya dan semua orang yang terjebak di perpustakaan, yang terpaksa harus membakar buku untuk menghangatkan badan mereka.Mempertimbangkan hubunganya dengan pemerintah, kita dibuat heran mengapa Jack melakukan penyelamatan ini hanya dengan dua orang sobat, sepatu salju, ransel dan sebuah van selain menemukan sebuah pesawat yang terbang di tengah badai yang mengamuk.

Dan, sewaktu Jack berupaya melakukan penyelamatan, istrinya, Dr. Lucy (Sela Ward), juga turut menyelamatkan pasien di sebuah rumah sakit daerah yang tak terurus. Banyak sekali aksi kepahlawanan mengagumkan yang disuguhkan dalam film ini Lebih banyak lagi hal yang mengagumkan, bahkan mungkin imajinasi dramatis anda sedikit lebih bagus dari masalah yang disampaikan Emmerich dan Jeffery Nachmanoff.Quaid, Gyllenhaal dan Rossum (Songcatcher, Mystic River) cukup bagus malakonkan perannya meskipun mereka hanya memainkan peran-peran yang jauh lebih kecil dari Ian Holm sebagai Profesor Rapson yang keriput. Bagian naskah non- visual yang terbaik adalah dipandang hanya sebagai selingan, dengan sedikit kelucuan didalamnya seperti saat Glenn Plummer sebagai Luther, gelandangan yang menyelinapkan anjingnya ke dalam perpustakaan. (erlin)

Earth, Film Dokumenter Pemanasan Global

20/04/2008 06:48 - Film
Sumber http://www.liputan6.com/


Cuplikan film Earth.

Liputan6.com, Jakarta: Sebuah film dokumenter berjudul Earth sedang diputar di bioskop di Indonesia menyambut Hari Bumi 22 April mendatang. Film yang proses produksinya memakan waktu hingga lima tahun ini mengajak penonton menjelajahi bumi serta memberikan gambaran tentang efek atau pemanasan global.

Kejelian dalam teknik pengambilan gambar membuat film garapan sutradara Alastair Fothergill ini terasa menyentuh. Gambar-gambar alam yang indah menjadi kekuatan. Film ini menampilkan kisah beruang kutub, gajah, dan paus yang berjuang menyelamatkan diri dari efek global warming. Beruang kutub berusaha hidup di tengah pecahan es yang terus mencair, gajah harus berjalan jauh mencari air, dan paus yang bermigrasi ribuan mil untuk mencari makanan.(YNI/Jopie Jacob)

Inconvenient Truth by Al Gore



Sumber http://www.pemanasanglobal.net/

Film dokumenter pemenang Academy Awards 2007 ini bercerita isu moral mengenai perubahan iklim dunia. Film ini disutradarai oleh Davis Guggenheim dan didukung Al Gore, mantan Wakil Presiden Amerika Serikat. Film dibuat atas dasar keprihatinan bersama pihak-pihak yang peduli akan pemanasan global.

Dalam An Inconvenient Truth, diceritakan global warming menyebabkan berbagai permasalahan dunia. Permukaan air laut perlahan naik sampai menelan pantai timur Amerika. Gedung pencakar langit World Trade Center (yang sempat dibom 11 September 2001) bahkan ikut tenggelam. Ini memang baru simulasi komputer dalam film itu.

Global warming akan dirasakan seluruh dunia tanpa terkecuali: Afrika akan mengalami kekeringan, Asia akan mengalami banjir, Amerika akan mengalami badai dan tornado, serta seluruh dunia akan mengalami dampak naiknya air laut. Semua ini akan menghancurkan Bumi dan diperkirakan 100 juta orang lebih bisa terancam.

Kenapa tidak begitu terasa? Analogi menarik dipaparkan film ini. Bila kodok dimasukkan dalam air mendidih, ia akan melompat kembali keluar. Namun, bila kodok dimasukkan dalam air yang normal kemudian perlahan dipanaskan, kodok itu tak akan melompat keluar. Ini sama dengan manusia yang tidak merasa khawatir akan pemanasan Bumi, padahal Bumi terancam.

Banyak hal yang harus dilakukan untuk menyelesaikan masalah ini, yang intinya kita semua harus hemat energi, baik listrik, industri, minyak, dan lain-lain. Semua pihak harus berusaha untuk menanggulangi global warning. Maka, tidak salah apabila film ini harus diangkat ke tengah publik dan wajib ditonton.